Pria pertamaku…
Mengenalkanku tentang hidup
Bagaimana menapak diatas kedua kaki mungilku
Bagaimana meraih asa dan mimpi dengan kedua tangan ini
Bagaimana berbicara dengan hati
Bagaimana teguh dengan pendirian
Bagaimana memilih priaku
***
Pria keduaku…
Mengenalkanku tentang rasa
Yang membuat wajahku bersemu merah
Yang membuat jantungku berdebar
Yang membuat hari-hariku berwarna
Tanya terlintas…inikah priaku?
Waktu berlalu…
Ia juga menunjukkan padaku
Bagaimana rasanya cemburu dan dicemburui
Bagaimana rasanya sayap terikat karena cinta
Bagaimana kebersamaan bisa menjadi duri
Bagaimana cinta bisa membutakan hati
Bagaimana cinta bisa terkikis karena cemburu tiada henti
Maka aku jadi mati hati…
***
Pria ketigaku…
Kupanggil dia bocah kecil
Usia belasan ketika bersua
Membuatku lupa dunia dewasaku
Membuatku larut dalam tawa dan ceria dunianya
Membuatku kecanduan dengan puisi cintanya
Membuatku melayang bak kupu-kupu kasmaran
Ahh…seperti fatamorgana
Sebuah cinta terlarang
Waktu berlalu…
Ku kembali berpijak di bumi
Yakin kami tak sejalan
Panjang masih jalan si bocah
Kutinggalkan ia dalam kecewa
Harap dan asanya bertepuk sebelah tangan
Luka kutorehkan…senyum kusirnakan
Bocah berlalu dalam diam
***
Pria keempatku…
Pejantan tangguh begitu kumenyebutnya
Muram menggelayut diwajahnya
Senyum bagaikan mengangkat sebongkah batu
Tapi buatku…senyum itu selalu hadir
Senyum menjadi sapa
Sapa menjadi cakap
Cakap menjadi canda
Canda menjadi cerita
Cerita menjadi cinta…
Tanya hadar…inikah priaku?
Ahhh…sekali lagi kumencoba mencinta
Sayang rasa berawal dari dusta
Walau hari-hari indah mengisi
Namun bunda tiada hati
Seperti ada diujung belati
Rasa inipun akhirnya mati…
***
Pria kelimaku…
Sua di dunia maya
Bertahun tiada kenal rupa
Namun cerita sudah ditentukan
Jumpa juga walau tiada rencana
Sungguh pria tiada rasa
Luncurkan kata tanpa pikir kepala
Tapi hati sungguhlah buatku terpesona
Haruskah kukenal cinta lagi?