“Aku sedang bicara dengannya”
Satu kalimat yang mungkin biasa saja
namun menusuk ke bagian terdalam hatiku
perih rasanya…
rasa apa ini?
tak kukenal perih yang menusuk ini
inikah cemburu?
“Aku sedang bicara dengannya”
Satu kalimat yang mungkin biasa saja
namun menusuk ke bagian terdalam hatiku
perih rasanya…
rasa apa ini?
tak kukenal perih yang menusuk ini
inikah cemburu?
Jauh jarak membentang
Menguntai kasih lewat sang maya
Kapan usai penantian ini
Kuhitung hari kian merana
Ahh…
Jauh jarak menuai asa
bentang rindu tak terkira
kasih di seberang samudra
kapan raga kan bersua?
Kecewa ini bisukanku
Sedih ini bekukan kataku
Dustamu kembali hadirkan luka
Maaf mudah saja mengalir
Tapi sakit ini kan tinggal selamanya
Tak sekali…
Namun dua kali
Haruskah ada kesempatan lagi?
Sampai kapan?
Sampai aku mati hati?
Tak cukupkah sekali kau hujamkan belati dusta ke hatiku?
Luka itu belum lagi sirna
Bayang-bayang kelam itu masih lagi membungkus kenanganku tentangmu
Cintakah kau sebut itu?
Mengapa sakit rasanya?
Bisu dalam dekap galau
Lekat tatap penuh risau
Gelitik rasa ini menganggu
Lagu sambil lalu?
semburat pilu?
aku tak tau…
***
Ucap tertelan isak
perih mendesak
sesak…
***
Bulir bening meniris
basahi hati teriris
sang gadispun menangis
Picture is taken from here
Berkaca-kaca sepasang jendela hati
Sirna tatap tajam penuh mimpi
Mengalir butir-butir bening
Susuri lekuk wajah
Tinggalkan jejak basah
Tiada berusaha ia seka
Resapi setiap tetesnya
yang wakilkan rasa dihatinya
Air mata bahagia
hadir bersama tawa dan canda
hadir teriring senyum
hadir dalam cinta
Air mata duka
hadir bersama luka
hadir teriring perih
hadir dalam cinta
Air mata murka
hadir bersama amarah
hadir teriring kebencian
hadir dalam cinta
***
air mata…
resapi hadirnya
bukti bahwa masih ada rasa
bahwa kita masih manusia
Pic: http://i21.photobucket.com/albums/b260/Natahsia/tears.jpg
Sepi…benar-benar sepi
Pekat…hitam dan sesak
Sesak…ingin keluar dan bebas
Penat…ingin mengepak
Kepak…kepak…kepak
Sayap mengepak serentak
Terbang…terbang…terbang
Sayap mimpi terbentang
Mengembang
Membumbung ke angkasa
Meraih satu…dua..tiga
hingga sejuta mimpi
Picture: http://images.elfwood.com/art/k/t/ktk30/angel_wings.jpg
Baru 23 usiaku saat dunia maya mempertemukan kita
Menginjak 28 usiaku saat kita bertemu di dunia nyata
Kini sosokmu tak lagi rentetan text dalam YM
atau suara yang menenangkan tanpa kenal sosoknya
Kini kau nyata dalam pandangku
Kini kau nyata dalam sentuhku
¤¤¤
Kau bukan lelaki pertamaku
Namun kuberharap jadi yang terakhir
Tempat kumelabuhkan segenap rasa dan asaku
Pilihan telah kubuat…
jadi jangan pernah ragukan rasaku padamu
jika resah dan cemburu hadir
bicaralah padaku
jangan kau simpan sendiri
berdalih semuanya baik-baik saja
ku bukan pembaca hati dan pikiran
walaupun bisa kurasakan galaumu
tapi tak mau ku bermain dengan pikiranku
¤¤¤
Aku belajar berdamai dengan masa laluku
menjadikannya sosokku yang sekarang
menjadikannya kenangan manis
menjadikannya pelajaran hidup
dan menyimpannya rapat dalam ruang kecil hatiku
Aku belajar berdamai dengan dirimu
menjaga perasaanmu
menjalin rasa percaya
menerima segala kelebihan dan kekuranganmu
mencintaimu dengan sederhana namun dengan sepenuh jiwa
Aku belajar berdamai dengan hatiku
melihat masa lalu sebagai cermin hidup
tuk menjadi lebih bijaksana
denganmu…kan kulukis masa depan kita
Hai tampan…
boleh kupanggil begitu?
ah…kalaupun tak kau ijinkan akan tetap kupanggil demikian
karena demikianlah adanya dirimu dimataku dan dihatiku
pasti kau akan tertawa
setiap kupanggil tampan
jawabmu pasti “memang dari lahir sudah begini”
atau “ah…dirayu nich”
tawa lepas dan senyumu selalu membuatku kangen
sungguh…dulu kupikir kau manusia batu
karena ekspresimu yang seperti TV layar datar “flat”
aku sudah mengoceh sampai berbusa
wajahmu tak ada jua berubah ekspresinya
cerita lucu, seram atau sedih
akan tampak serupa di wajahmu
tapi aku senang…kau mulai bisa tersenyum, tertawa bahkan menangis
kini ku yakin kau manusia juga
Pletakkk…
maaf kalau kujitak kepalamu
sampai tiga kali sehari
kuharap kau tak amnesia
kulakukan karena sayangku padamu
agar kau lebih sensitif
agar kau lebih perasa
agar kau paham kata, rasa dan raut wajahku
agar kau paham PMS membuatku sangat moody
agar kau paham bicara jangan asal nyablak
agar kau paham perasaan orang lain
agar kau lebih peduli pada sekitar
agar kau lihat lebih dekat
dan rasakan hadirku dalam hidupmu
Hai lelakiku…
tak sampai enam purnama lagi
sepertinya aku masih sabar menanti
sampai kau lamar gadis tomboy yang keras kepala ini
yang tak punya alat make up sama sekali
foto narsis tak terkendali
selalu jalan kesana kemari
dan mengoceh tiada henti
Hai lelakiku…
siapkah kau habiskan hari-hari
bersama gadis manja yang selalu sok tegar ini?
siapkah kau mencicipi setiap hari
masakan hasil ekperimen yang rasanya belum terbukti?
siapkah kau menghadapi
keteraturan dan keras kepalanya yang silih berganti?
siapkah kau menjadi warna warni
seperti selama ini dia mengisi hari-hari?
Hai lelakiku…
jika semua jawabanmu adalah siap
kutunggu kau di pulau dewa dewi
bicaralah pada ayah bundaku
dan jadikanlah aku pendampingmu
Di dekap malam dan dingin yang menusuk sampai ke sumsum tulangku
Kucoba pejamkan mata yang memerah sarat dengan lelah
Detik demi detik terasa merangkak begitu lambat
Resah tubuh ini berbalik sana dan sini
Lelah kupaksa tidurkan raga yang tau jua terlelap
Apa ini Tuhan?
Rasa apa ini?
Kucoba merunut kejadian
Kucoba mengingat kerabat, sahabat…
Apa ini Tuhan?
Rasa apa ini?
Buatku tak mampu pejamkan mata
Hadirkan resah yang aku tak paham
Dalam setiap sujudku
Dalam setiap lantunan pujian untukMu
Dalam setiap hembusan asma suciMu
Kupanjatkan sebentuk harapan, doa, keinginan dan sejenisnya
Mohon hadirkan terang di hatiku
agar kubaca jelas resah ini….