Hai tampan…
boleh kupanggil begitu?
ah…kalaupun tak kau ijinkan akan tetap kupanggil demikian
karena demikianlah adanya dirimu dimataku dan dihatiku
pasti kau akan tertawa
setiap kupanggil tampan
jawabmu pasti “memang dari lahir sudah begini”
atau “ah…dirayu nich”
tawa lepas dan senyumu selalu membuatku kangen
sungguh…dulu kupikir kau manusia batu
karena ekspresimu yang seperti TV layar datar “flat”
aku sudah mengoceh sampai berbusa
wajahmu tak ada jua berubah ekspresinya
cerita lucu, seram atau sedih
akan tampak serupa di wajahmu
tapi aku senang…kau mulai bisa tersenyum, tertawa bahkan menangis
kini ku yakin kau manusia juga
Pletakkk…
maaf kalau kujitak kepalamu
sampai tiga kali sehari
kuharap kau tak amnesia
kulakukan karena sayangku padamu
agar kau lebih sensitif
agar kau lebih perasa
agar kau paham kata, rasa dan raut wajahku
agar kau paham PMS membuatku sangat moody
agar kau paham bicara jangan asal nyablak
agar kau paham perasaan orang lain
agar kau lebih peduli pada sekitar
agar kau lihat lebih dekat
dan rasakan hadirku dalam hidupmu
Hai lelakiku…
tak sampai enam purnama lagi
sepertinya aku masih sabar menanti
sampai kau lamar gadis tomboy yang keras kepala ini
yang tak punya alat make up sama sekali
foto narsis tak terkendali
selalu jalan kesana kemari
dan mengoceh tiada henti
Hai lelakiku…
siapkah kau habiskan hari-hari
bersama gadis manja yang selalu sok tegar ini?
siapkah kau mencicipi setiap hari
masakan hasil ekperimen yang rasanya belum terbukti?
siapkah kau menghadapi
keteraturan dan keras kepalanya yang silih berganti?
siapkah kau menjadi warna warni
seperti selama ini dia mengisi hari-hari?
Hai lelakiku…
jika semua jawabanmu adalah siap
kutunggu kau di pulau dewa dewi
bicaralah pada ayah bundaku
dan jadikanlah aku pendampingmu