Semburat kemerahan di langit senja perlahan menghilang
dan sang malampun merengkuh kuasa sang surya…
Sungguh sang bayu sangat tak ramah,
di pekat malam dan rintik hujan ia berhembus dengan kencangnya…
menampar wajah pucat yang terseok menantangnya
Sekuat tenaga si pucat menahan tubuhnya…
diseretnya sebelah kaki yang lunglai bagai tak bertulang,
sementara kedua tangannya memeluk bungkusan berbalut kain hitam.
Semakin ia merangsak maju,
semakin gencar angin mendorong tubuh ringkihnya…
walaupun masih tampak sisa-sisa kegagahan masa lalunya…
namun luka di dadanya menyerap hampir seluruh tenaganya…
Luka itu masih menganga…
walau bertahun-tahun telah berlalu…
walau terus ia balutkan ramuan di atasnya…
dalam…sungguh dalam luka itu tertoreh…
Nafasnya mulai satu satu,
dan luka itu terus megucurkan darah…
namun tak berkurang dekapnya pada bungkusan berbalut kain hitam itu…
hingga sampai ia…di depan gundukan tanah merah basah tertimpa air hujan
Jatuh bersimpuh ia…
di letakkannya bungkusan itu di atas gundukan tanah merah…
jari-jari kurus kering itu bergetar hebat…
bukan karena dinginnya malam
bukan karena tetes air yang menghunjam tubuh kurusnya seperti jarum
bukan juga karena hempasan angin…bukan…
karena di sisa tenaganya…dia penuhi janjinya
tuk bawakan mawar putih terakhir buat sang dewi
sebelum maut juga menjemputnya…
disini…disisi pusara sang dewi…
“kini aku bisa pergi…untuk sebuah janji yang sudah terpenuhi”