PENA MENARI

Rangkaian huruf, kata, kalimat dan suara hati

Aku… June 21, 2008

Filed under: Puisi — butt3rfly @ 9:05 am
Tags: ,

Aku seperti layang-layang yang lepas dari talinya

melayang tak tentu arah

pasrahkan pada hembus angin

Aku seperti pohon pinus di musim gugur

yang harus rela kehilangan helai demi helai

hingga akhirnya lenyap sama sekali

Aku seperti danau di musim kemarau

yang airnya mengering karena panas

Aku seperti pengemis buta

yang meraba dalam gelap

yang terseok meniti jalan

yang menghiba berharap belas kasihan

***

Aku kehilangan pijakanku

Aku melepas sebagian mimpi dan harapku

Aku meninggalkan sekeping hatiku

Aku membiarkan luka itu menganga

Aku yang tak utuh

Aku yang terluka

Aku yang masih mencinta…

 

Hanya ingin bicara June 19, 2008

Filed under: Puisi — butt3rfly @ 9:54 pm

Aku hanya ingin bicara…

Berceloteh tak tentu arah seperti biasanya

Berbagi cerita tentang apa yang kita kerjakan hari ini

Berbagi cerita tentang kejadian di sekitar kita

Bercanda…

Tertawa lepas…

***

Aku hanya ingin bicara…

Tentang panasnya udara hari ini

Tentang padatnya lalu lintas

Tentang lambatnya koneksi internet

Tentang papaku yang mengaku tak bisa tidur, namun terlelap dimanapun ia bersandar

Tentang masakan mamaku hari ini

Tentang kakakku yang sibuk memintaku menghubungi pacarnya

Tentang adikku yang sok sibuk

Tentang betapa kangennya aku padamu

Tentang betapa sepinya kulewati waktu tanpamu

***

Aku hanya ingin bicara…

Mengomentari perkataanmu yang mengganti semua F dengan P

Mentertawakan leluconmu yang hampir selalu garing, namun tetap membuatku tertawa

Mengoreksi bahasa Inggrismu yang pas-pasan

Menasehatimu layaknya guru pada muridnya

***

Aku hanya ingin bicara

Terus sampai kita berdua sama-sama terlelap

Dengan membawa cerita dalam bunga mimpi

Aku hanya ingin bicara…

 

Hadirmu June 19, 2008

Filed under: Puisi — butt3rfly @ 6:17 pm

Jika ikuti hendakku

Maka kan kuhujani kau dengan keluh kesahku

Namun…

Rasaku padamu hentikanku

Lelah ini bukan hanya jatuh padaku

Kutau ada juga padamu

Namun…

Penat rasanya kudengar oceh sekitar

Semuanya padaku

Kuingin menggenggam tanganmu

Kuingin bersandar padamu

Tak perlu dengarkan keluhku

Cukup ada disampingku

Hadirmu kan selalu berikan hangat di hatiku…

 

Rasa ini aku tak tau June 19, 2008

Filed under: Puisi — butt3rfly @ 6:11 pm
Tags: ,

Kebas rasanya tangan menggenggam jemari basah oleh keringat

Walau belahan jiwa hadir tuk temani

masih berdegup jantung tak karuan

Buka cakap dalam gagap

Luncurkan canda tak berguna

Ahh…rasa ini aku tak tau

***

Semakin dekat waktu, semakin tak karuan rasaku

Ada gairah menyeruak

Ada kegirangan tak terbendung

Ada sedih menyusup

Ada takut menyergap

Rasa ini aku tak tau

 

Tak lagi… June 9, 2008

Filed under: Puisi — butt3rfly @ 11:03 am
Tags: , ,

Suara langkahnya menjauh

Sayup dan semakin hilang

Suaranya menyerpih di sela deru sang bayu

Sayup dan semakin hilang

Bayang wajahnya mengabur dalam cermin

Pudar dan semakin hilang

***

Tak lagi kau dengar langkah kecilnya mendekat padamu

Tak lagi kau dengar suara ramainya mengoceh tak tentu arah

Tak lagi kau dengar derai tawa lepasnya

Tak lagi kau dengar candanya

Tak lagi kau lihat 1001 ekspresi wajahnya

Tak lagi kau kau lihat senyumannya

***

Tak lagi ia bergelayut manja di lenganmu

Tak lagi ia menggenggam tanganmu demi sebentuk ketenangan

Tak lagi ia menangis di pelukanmu

Tak lagi ia membagi cerita dan mimpinya padamu

Tak lagi ia hadirkan hangat, senyum dan tawa di hari-harimu

***

Gadis kecilmu tlah berlalu…

 

Masihkah kau ijinkan? June 7, 2008

Filed under: Dialog — butt3rfly @ 11:34 pm
Tags: , ,

Bunda, malam ini saja…bolehkan aku tidur dipangkuanmu?

Hari-hari belakangan terasa begitu berat buatku…

Semuanya berputar di kepalaku…penat rasanya

Kudengar caci maki, sumpah serapah…tuli telingaku rasanya

Kupandangi wajah-wajah penuh kepalsuan, muak rasanya

Kuhirup asap rokok, parfum murahan juga nafas-nafas penuh keserakahan

Masihkah aku layak disebut manusia, bunda?

Saat kupacu langkahku meski kulihat wanita tua ingin menyebrang jalan

Saat kupalingkan wajah meski tampak dihadapanku gadis kecil gemetaran menahan lapar

Saat ku berlagak tuli meski kudengar sahabatku yang tertimpa musibah memanggil namaku

Saat ku berlagak bisu meski ku tahu atasanku berselingkuh dengan sekretarisnya

Saat akupun mulai meragukan kemanusiaanku…

Bunda…masihkan kau ijinkan aku tidur di pangkuanmu?

 

Untuk sebuah janji June 7, 2008

Filed under: Abstrak — butt3rfly @ 11:11 pm
Tags: , ,

Semburat kemerahan di langit senja perlahan menghilang

dan sang malampun merengkuh kuasa sang surya…

Sungguh sang bayu sangat tak ramah,

di pekat malam dan rintik hujan ia berhembus dengan kencangnya…

menampar wajah pucat yang terseok menantangnya

Sekuat tenaga si pucat menahan tubuhnya…

diseretnya sebelah kaki yang lunglai bagai tak bertulang,

sementara kedua tangannya memeluk bungkusan berbalut kain hitam.

Semakin ia merangsak maju,

semakin gencar angin mendorong tubuh ringkihnya…

walaupun masih tampak sisa-sisa kegagahan masa lalunya…

namun luka di dadanya menyerap hampir seluruh tenaganya…

Luka itu masih menganga…

walau bertahun-tahun telah berlalu…

walau terus ia balutkan ramuan di atasnya…

dalam…sungguh dalam luka itu tertoreh…

Nafasnya mulai satu satu,

dan luka itu terus megucurkan darah…

namun tak berkurang dekapnya pada bungkusan berbalut kain hitam itu…

hingga sampai ia…di depan gundukan tanah merah basah tertimpa air hujan

Jatuh bersimpuh ia…

di letakkannya bungkusan itu di atas gundukan tanah merah…

jari-jari kurus kering itu bergetar hebat…

bukan karena dinginnya malam

bukan karena tetes air yang menghunjam tubuh kurusnya seperti jarum

bukan juga karena hempasan angin…bukan…

karena di sisa tenaganya…dia penuhi janjinya

tuk bawakan mawar putih terakhir buat sang dewi

sebelum maut juga menjemputnya…

disini…disisi pusara sang dewi…

“kini aku bisa pergi…untuk sebuah janji yang sudah terpenuhi”

 

SUA June 7, 2008

Filed under: Puisi — butt3rfly @ 5:27 pm
Tags: ,

Suatu hari di bulan September

Kubertemu dia

Sahabat lama

Ada canggung dan segan

Namun lenyap seiring cakap mengalir

Tawa berderai

Canda terlontar

***

Melangkah aku pulang

Dalam kecamuk dua rasa

Gejolak rasa bocah

Dan logika orang dewasa

Dalam Tanya

Kemanakah Dia kan membawa langkahku kali ini

Dalam bimbang

Pantaskah kumiliki rasa ini

***

Menyerpih dia dalam waktu dan rutin

Hingga pisah diambang temu

Dalam jeda dia kembali

Kuatkan rasa yang hadir

Berat langkah menjauh

Enggan rasa melupakan

***

Terpisah jarak dan waktu

Namun rasa tak memudar

Bertanya dia dalam galau

“Salahkah kumiliki rasa ini?”

“Inginkah kau aku menjauh darimu?”

Dalam galauku jua

“Jangan”

Itu jawabku

 

Pria-priaku June 7, 2008

Filed under: Puisi — butt3rfly @ 3:24 pm
Tags: , ,

Pria pertamaku…

Mengenalkanku tentang hidup

Bagaimana menapak diatas kedua kaki mungilku

Bagaimana meraih asa dan mimpi dengan kedua tangan ini

Bagaimana berbicara dengan hati

Bagaimana teguh dengan pendirian

Bagaimana memilih priaku

***

Pria keduaku…

Mengenalkanku tentang rasa

Yang membuat wajahku bersemu merah

Yang membuat jantungku berdebar

Yang membuat hari-hariku berwarna

Tanya terlintas…inikah priaku?

Waktu berlalu…

Ia juga menunjukkan padaku

Bagaimana rasanya cemburu dan dicemburui

Bagaimana rasanya sayap terikat karena cinta

Bagaimana kebersamaan bisa menjadi duri

Bagaimana cinta bisa membutakan hati

Bagaimana cinta bisa terkikis karena cemburu tiada henti

Maka aku jadi mati hati…

***

Pria ketigaku…

Kupanggil dia bocah kecil

Usia belasan ketika bersua

Membuatku lupa dunia dewasaku

Membuatku larut dalam tawa dan ceria dunianya

Membuatku kecanduan dengan puisi cintanya

Membuatku melayang bak kupu-kupu kasmaran

Ahh…seperti fatamorgana

Sebuah cinta terlarang

Waktu berlalu…

Ku kembali berpijak di bumi

Yakin kami tak sejalan

Panjang masih jalan si bocah

Kutinggalkan ia dalam kecewa

Harap dan asanya bertepuk sebelah tangan

Luka kutorehkan…senyum kusirnakan

Bocah berlalu dalam diam

***

Pria keempatku…

Pejantan tangguh begitu kumenyebutnya

Muram menggelayut diwajahnya

Senyum bagaikan mengangkat sebongkah batu

Tapi buatku…senyum itu selalu hadir

Senyum menjadi sapa

Sapa menjadi cakap

Cakap menjadi canda

Canda menjadi cerita

Cerita menjadi cinta…

Tanya hadar…inikah priaku?

Ahhh…sekali lagi kumencoba mencinta

Sayang rasa berawal dari dusta

Walau hari-hari indah mengisi

Namun bunda tiada hati

Seperti ada diujung belati

Rasa inipun akhirnya mati…

***

Pria kelimaku…

Sua di dunia maya

Bertahun tiada kenal rupa

Namun cerita sudah ditentukan

Jumpa juga walau tiada rencana

Sungguh pria tiada rasa

Luncurkan kata tanpa pikir kepala

Tapi hati sungguhlah buatku terpesona

Haruskah kukenal cinta lagi?